Selasa, 12 Agustus 2014

Ramadhan Di Rumah Ayahanda Mahmudin Pasaribu


 RAMADHAN DI RUMAH AYAHANDA MAHMUDIN PASARIBU
By: Fb Ahmad


Semua orang selalu antusias menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Tak terkecuali para santri-santri Musthafawiyah ini. karna berketepatan dengan hari libur panjang, banyak para santri yang mempersiapkan diri dengan berbagai acara penyambutan dikampung masing masing. Namun ada yang lebih istimewa dengan beberapa santri yang memilih untuk melanjutkan belajar kerumah ayah Mahmudin sampai selesai khatam empat kitab. Mulai dari kitab Nasoihul Ibad, Kawakib,Subulus Salam, dan juga kitab Jami’ Durus Arabiyah.

Kegiatan ini sungguh istimewa. Selain pesertanya masih tergolong sedikit dibanding dengan jumlah santri yang begitu banyak, kajian itu juga hanya di ikuti oleh para pokir (santri laki-laki) saja. Maklum waktu itu kajian diadakan dirumah beliau bukan dilingkungan pesantren. Sehingga ada sebagian dari Patayat ( santri perempuan) yang protes supaya mereka bisa ikut serta dalam acara itu.

Kegiatan itu juga sangat istimewa karena tempatnya diperkampungan yang jauh kepedalaman. Berada dipunjak lereng gunung Sorik Marapi. Siang harinya yang sangat cerah, malam harinya suasana dingin. Air pegunungan yang jernih, tanaman dan sayuran yang begitu segar, ditambah lagi dengan pemandangan yang sangat indah dan menarik. Membuat kita betah berlama lama didesa itu. Nyaman aman, tenteram baik hati,dan juga pikiran sungguh sangat luar biasa suasana itu.

Tempat itu sering disebut “Huta Tinggi” alias kampung tinggi. Memang tempat itu merupakan kampung yang paling tinggi diarea gunung sehingga tak jarang awan sudah duluan menyelimutinya dikala hari sudah sore. Ada yang mengatakan tempat itu adalah “Kampung Lamo” alias kampong yang lama disitu memang ada sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan masyarakat, tetapi nama ini tidak terlalu tekenal dibanding dengan Huta Tinggi, sehingga kebanyakan menyebutnya dengan Huta Tinggi padahal sebenarnya adalah Kampung Lamo.

Kembali kita kepsantren, rupanya dua hari lagi mau liburan, Sahrial, Utsman, Feri dan kawan kawan dari banjar muslim udah mulai mempersiapkan barang dan bekal menuju kesana. Mulai dari pakaian, bekal selama sebulan, Kompor, tikar tak lupa plus kitab-kitab sudah mulai diangkut keangkot.

Saya yang berjalan pulang kerumah dipagi menjelang siang itu dipanggil oleh teman teman:

Sahrial : Ardi, kamu mau jadi ikut gak ketempat ayah Mahmudin?
Ardi : Ia, saya ikut…
Feri & Taufik : Kami dah mau berangkat bawa barang kesana.
Ardi : kok hari ini?? kenapa gak besok aja..
Alang : Besok udah gak bisa bawa barang wak. Orang yang pulang kampung banyak. Nanti montor pada penuh.
Ismail : Udah tinggalin aja si Ardi klo gak mau ikut…
Utsman : Ardi, cepatlah beresin aja barang kamu biar kita berangkat sekarang. Nanti sama aku aja, ini kita belakangan gak muat satu montor…
Ardi : Ia,,,tunggu ya, saya kerumah dulu…

Siang itu juga saya bergegas kerumah mempersiapkan bekal, dan berangkat dengan utsman disore harinya. Sesampai disana rupanya teman teman udah pada duluan sampai, termasuk Junaedi teman sekelasku. Teman yang akrab sejak kelas satu tsanawiyah, keakraban kami karena selalu semeja berdua didepan meja Ayah guru mulai dari masuk psantren itu sampai kelas satu Aliyah. Akhirnya saya satu kamar lagi dengannya.

Dua Hari setelahnya, sekitar tiga puluhan santri udah menetap di “Huta Tinggi”. mulailah dibuka kajian disore hari Ba’da solat asar. Mulai hari itu kami resapi bersama hari hari kami selama satu bulan lamanya beserta ayahanda tercinta “Mahmudin Pasaribu”. yang sangat ikhlas untuk mengajarkan ilmunya kepada kami, dengan penuh kesabaran untuk memberikan bimbingan dan arahan buat kami, gigih untuk mengjunjung tinggi dan menggali ilmu agama walaupun usianya sudah mulai lanjut. Kegigihan beliau terlihat dari keseriusannya dengan seorang diri mengajarkan ilmunya kepada kami disetiap selesai melakukan solat fardu berjamaah dimesjid. Itulah kepribadian Ayahanda yang luhur yang tidak akan pernah dilupakan oleh para santrinya. Ilmunya barokah, hidupnya barokah, umurnya juga barokah.

Inilah seulas kegiatan santri musthafawiyah dan guru guru disana dalam rangka menyambut dan memeriahkan bulan suci Ramadhan. Salam buat ayahanda dan juga buat rekan saya Ayah “Ali Basa”, yang konon kabarnya membantu ayahanda untuk memberikan pelajaran bagi para adik santri. Semoga kegiatan ini selalu ada, dan untuk para adek adek jangan tinggalkan acara ini karena ini sungguh sangat bermanfaat dan luar biasa.

#Sahabat Musthafawiyah dari Jakarta. 

Tidak ada komentar: